Posted by: Linnia sarap on: November 8, 2008
Pertama aku melihat ke dalam matamu aku merasa akan tersakiti
Pertama kali aku tertarik padamu aku merasa aku akan seperti pungguk merindukan bulan
Pertama kali aku mengenalmu aku merasa aku tidak akan kaupedulikan
Pertama kali aku menyukaimu aku merasa bahwa kamu terlalu jauh untukku
Dan pertama kali aku patah hati karenamu aku tahu
Seharusnya aku tidak membuat dugaan-dugaan itu
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Best Moments Ever
Sarah menghela napasnya berat. Banyak sekali yang harus dipikirkannya sekarang. Studinya sekarang sudah hampir memasuki semester duanya di kampus, namun umurnya masih 18 tahun. Itu karena Sarah dianggap pintar, lalu saat SMA pernah dimasukkan ke kelas akselerasi. Jadi dia satu tingkat lebih cepat selesai studinya daripada teman-teman sebayanya. Padahal sama sekali Sarah tidak pernah merasa pintar. Dia hanya mengeluarkan kemampuan otaknya. Itu saja. Tak lebih. Dan dia merasa itu bukan yang disebut kepintaran.
Tiba-tiba ingatan Sarah melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu, saat dia masih menduduki bangku SMP. Saat tahun keduanya di SMP. Waktu itu dia dikirim ke Jepang karena prestasinya yang menonjol di angkatannya. Atau bisa dibilang dialah anak terpintar di angkatannya. Waktu itu dia dikirim ke Jepang untuk program pertukaran pelajar. Dia dikirim ke sana bersama satu anak laki-laki yang dia belum kenal. Tapi pastilah mereka seangkatan.
Di pesawat yang menuju Jepang, Sarah sangat bosan karena tidak ada teman ngobrol. Dia mau berkenalan dengan anak di sebelahnya yang masih memandangi pemandangan di luar. Namun dia sangat canggung dan segan untuk berkenalan dengannya, karena tampang anak itu sangat tidak peduli. Akhirnya, setelah hatinya berperang sengit, Sarah memutuskan untuk berkenalan dengan cowok itu.
“Hai, emm…boleh kenalan nggak?” tanya Sarah. Anak itu hanya mengangguk cuek. Akhirnya Sarah mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.
“Namaku Sarah. Sarah Rena Sevenlia. Kamu siapa?”
“Putra.” Jawabnya singkat. Tak membalas jabat tangan Sarah ataupun senyumnya. Putra masih memandangi pemandangan di luar, padahal jelas-jelas tidak ada yang terlihat di luar sana kecuali awan yang berarak. Untuk memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka, Sarah mencoba berbasa-basi.
“Kamu suka melihat awan ya?” sebenarnya Sarah sangat enggan harus berbasa-basi pada cowok secuek Putra. Tapi daripada tidak ada teman ngobrol, lebih baik mencoba ramah.
“Bukan urusan kamu.” cuek, singkat, dan sangat membuat Sarah jengkel setengah mati. Dia sudah kehabisan ide bagaimana menyikapi Putra. Hatinya sudah mendidih. Belum pernah dia disikapi seperti ini.
“Kenapa sih kamu cuek? Kamu nggak bosan melihat awan terus apa? Setidaknya temani aku ngobrol daripada kamu melamun seperti itu!” rupanya kesabaran Sarah telah sampai pada titik tertingginya. Mata gadis itu melotot pada Putra yang masih saja bergeming. Dipelototi seperti itu, Putra tidak terima diperlakukan seperti itu. Oleh gadis yang baru dikenalnya pula. Dia balas melotot pada Sarah.
“Sekali lagi kubilang ini bukan urusanmu!! Kamu tidak boleh ikut campur urusanku!! Lagipula kamu kan bisa melakukan hal lain selain menggangguku. Aku tidak suka ngobrol tahu!!” balas putra tak kalah sengit. Keduanya masih saling memelototkan mata mereka pada satu sama lain. Mereka tak ada yang mau mengalah. Dua-duanya keras kepala. Mereka berusaha mempertahankan argumen masing-masing.
Tiba-tiba Sarah merasakan hal aneh. Jantungnya berdebar-debar ketika menatap langsung ke dalam mata Putra. Jantungnya seolah mencoba melepaskan diri dari peredaran darahnya, menembus tulang rusuknya dan merobek kulit mulusnya. Sarah juga merasakan wajahnya panas serasa terbakar. Dia yakin sekarang mukanya merah padam. Sarah berpikir mungkin dia sedang sakit atau dia terlalu terbawa emosi yang meluap-luap seperti kawah di gunung berapi. Siap meletus kapan saja.
Demikian juga dengan Putra. Dia merasakan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan selama ini. Ketika dia memandang mata Sarah yang jernih, jantungnya berdebar sampai dia berpikiran Sarah sekalipun dapat mendengar detak jantungnya yang sedang berpacu cepat. Keadaan tidak menjadi lebih baik ketika dia menyadari dirinya hanya selisih tinggi 5 cm dengan Sarah. Dia juga baru menyadari bahwa wajah Sarah sangat mulus tanpa jerawat sedikitpun. Kulit mukanya memerah seperti kepiting rebus. Dia juga memperhatikan rona wajah Sarah yang juga berubah seperti yang sedang dia alami sekarang.
Kemudian keduanya memalingkan muka mereka. Seolah menyerah bersama-sama. Sepanjang sisa perjalanan mereka sebisa mungkin menghindari kontak mata satu sama lain. Mereka saling memikirkan sensasi apa yang tadi melandanya. Sedikit tidak enak tapi lumayan menyenangkan. Seperti terbang ke langit tanpa pengaman, takut jatuh dari ketinggian tapi menyenangkan.
“Perhatian, kepada penumpang pesawat Rajawali jurusan Jakarta-Tokyo, kami informasikan bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di bandara terdekat karena cuaca yang buruk. Mohon maaf untuk keterlambatan dan penundaan ini. Terima kasih.” terdengar suara pramugari yang memberi pengumuman. Diam-diam, Sarah mengeluh kecil. Dia sedikit kesal karena penundaan ini. Dan itu berarti lebih lama lagi bersama cowok pasif bernama Putra ini. Dan lebih banyak kesempatan untuk mereka bertatap pandang, yang menimbulkan sensasi aneh itu.
Mereka turun di Hong Kong International Airport (HKIA). Di bandara itu mereka membeli minuman cappucino dan membeli roti. Harga makanan dan minuman di sana relatif murah. Mereka menunggu di bandara sampai cuaca dinyatakan aman untuk terbang lagi. Dan menunggu itu sangat lama karena belum ada tanda-tanda cuaca akan membaik. Sarah mengeluh cukup keras dan membuat Putra menoleh dengan tanda tanya terlukis jelas di mukanya. Dan raut kebosanan juga tentunya. Kemudian keduanya sama-sama terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang berani mengawali percakapan. Bahkan Sarah yang sangat bosan apabila tidak ngobrol dalam waktu lama.
“Perhatian untuk penumpang pesawat Rajawali Jakarta-Tokyo harap kembali memasuki pesawat karena udara sudah dinyatakan aman untuk terbang melanjutkan perjalanan.” dari speaker bandara terdengar pemberitahuan yang menghapus raut kebosanan Putra dan membuat senyum Sarah terkembang di wajahnya.
Setelah pesawat lepas landas meninggalkan bandara itu, dengan segera mata Sarah terasa berat, lalu dia pun tertidur. Dia bahkan tidak mendengar pengumuman pramugari bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat.
“Saraaaahh…!!! Ini udah mau sampai kamu masih tiduurr..!!” samar-samar terdengar suara Putra yang setengah berteriak di telinga Sarah. Sarah langsung terbangun begitu mendengarnya. Dan ketika mata mereka bertemu, terjadi lagi sensasi yang asing itu. Yang tidak enak tapi menyenangkan. Tapi kali ini mereka cepat memalingkan muka karena mereka memang harus menyiapkan barang-barang bawaan mereka.
Mereka turun dari pesawat setelah pesawat mendarat di Narita International Airport. Sarah celingukan mencari kopernya. Demikian juga dengan Putra. Setelah mereka menemukan koper mereka dan membawanya, mereka mencari penjemput mereka. Di antara sekian banyak penjemput yang berteriak-teriak mencari yang dijemputnya, atau ada juga yang menulis nama yang dijemput di sebuah kertas. Suasana di sana sangat ramai.
“Memangnya kita dijemput siapa sih, Put?” tanya Sarah.
“Katanya akan ada utusan dari Kedutaan Besar Indonesia akan menjemput kita di sini. Tapi kok sepertinya tidak ada ya?” gumam Putra lebih kepada dirinya sendiri. Tapi tiba-tiba mereka melihat seseorang yanng memegang kertas bertuliskan nama mereka. Kemudian mereka menghampiri orang itu.
“Maaf, apakah anda diutus untuk menjemput kami?” tanya Sarah memberanikan diri. Orang itu menoleh. Sarah dapat memperkirakan bahwa umurnya masih sekitar 35 tahun.
“Oh, jadi kalian ini Sarah dan Putra? Ya, saya diutus untuk menjemput kalian. Sekarang kita ke KBRI dulu.” kata orang itu sambil tersenyum. Putra dan Sarah mulai merasa mereka akan menyukai orang itu.
*************
Sepanjang perjalanan dari bandara Narita ke KBRI, orang itu memperkenalkan dirinya. Orang itu bernama pak Suryo. Pak Suryo lahir dan besar di Jawa Barat. Beliau terus menceritakan tentang dirinya dan juga tentang Jepang. Ternyata sudah 3 tahun beliau tinggal di Jepang. Beliau juga menceritakan tentang anak dan istrinya di Bandung. Sarah dan Putra tidak berhenti tertawa saat pak Suryo bercerita tentang anaknya yang bungsu serta semua tingkah lucunya.
Pemandangan di luar sangat menarik. Banyak gedung-gedung pencakar langit saat mereka melewati jalan kota. Seolah-olah semua gedung tinggi itu benar-benar mencakar langit.
“Nah, anak-anak. Sudah sampai. Ayo turun. Besok kalian kan ada waktu luang, kebetulan hari Sabtu pula. Besok kita bisa jalan-jalan menjelajah Tokyo. Mau kan?” Tawar pak Suryo. Sarah mengangguk semangat sambil tersenyum manis sementara Putra hanya tersenyum simpul.Mereka memasuki gedung KBRI diantar oleh pak Suryo. Di sana mereka mengurus data-data mereka.
“Selama kami di Jepang, dimana kami tinggal?” tanya Putra pada Duta Besar ketika mereka menemuinya di ruangannya.
“Kalian akan tinggal di pinggir kota Tokyo, dekat sekolah kalian.” jawab beliau. Putra hanya mengangguk sementara Sarah mengamati ruangan itu. Ruangannya tidak terlalu besar tapi ditata dengan sangat rapi. Di pojok ada lemari kayu yang isinya penghargaan-penghargaan. Ruangannya hangat dan menyenangkan. Meja kerja terletak di tengah ruangan menghada pintu. Di sisi lain ruangan itu, ada perapian dan sofa yang nyaman. Disana pasti menyenangkan, pikir Sarah.
Setelah beberapa saat berbincang dengan Duta Besar, mmereka diantar lagi ke rumah mereka selama di Jepang di pinggir kota Tokyo oleh pak Suryo. Pemandangan di jalan sangat indah. Sarah sangat memperhatikan itu. Di mana-mana sawh bertebaran etika mereka sedikit keluar dari Tokyo.
Saat mereka sampai, mereka disambut dengan meriah. Sang ibu pemilik rumah sangat antusias menerima kedatangan Sarah dan Putra di rumah itu.
“Ah…Sarah-chan dan Putra-san dari negeri Indonesia… selamat datang di rumah kami. Mari sini saya perkenalkan kalian dulu dengan penghuni rumah ini.” kata sang ibu antusias. Ketika mereka memasuki rumah, suasana hangat menyambut mereka. Semuanya menyambut kedatangan mereka. Membuat hati Sarah hangat.
“Perkenalkan..ini Yumei-chan..kakak angkat kalian. Yang ini adik angkat kalian, Hanaka-san..saya sendiri ibu angkat kalian selama kalian di sini. Ini ayah angkat kalian juga..” Sarah tersenyum. Sekarang dia punya kakak perempuan disini!
“Kamar kalian ada di atas, kamar yang tepat di sebelah kanan tangga untuk Sarah dan Yumei, dua kamar setelah tangga sebelah kiri untuk Putra.. ayo silahkan ke kamar..” kata ibu tersebut. Mungkin mulai sekarang aku harus panggil dia Ibu, pikir Sarah.
Sarah ke kamarnya membawa barang-barangnya. Dia melihat keadaan kamar. Ada meja belajar yang saling memunggungi di sisi kanan dan kiri kamar tersebut. Dekat pintu ada lemari geser untuk pakaian dan kasur lipat,serta selimut.tepat di depan pintu ada jendela model geser dengan kaca bening dan gorden warna biru gelap bermotif bintang-bintang. Sarah berpikir, bagaimana dia bisa tidak betah di sini. Semuanya menyenangkan. Keluarga yang ramah, kamar yang menyenangkan, dan semuanya. Sarah ingat dulu dia pernah menggerutu kenapa pertukaran pelajarnya sangat lama. 3 bulan. Sekarang Sarah malah menganggap waktunya sangat sedikit.
Tapi sekarang Sarah yakin dia akan betah di sini..
***********
Sebulan Kemudian……..
“Sarah-chaaaaaannn…!!!” Airin, salah seorang sahabat Sarah di Jepang, berteriak memanggilnya.
Ya, sekarang Sarah sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang. Di sini dia sekolah di Honey Star High School di Tokyo. Sarah ditempatkan di kelas Internasional 8-3. Teman-temannya semuanya asyik. Ada ChocoAddicters, kumpulan para penggemar coklat, ada NatureLover, kumpulan anak-anak pecinta lingkungan. Tapi Sarah juga gabung ke satu geng yang keren. Mereka menamai diri mereka TeensLife. Geng ini memang geng terkeren di sekolah itu. Bahkan mereka punya blog sendiri. Sarah harus mengakui bahwa TeensLife memang geng terkeren di sana.
Sementara Putra? Hei, hei.. kalian belum lupa kan? Berkebalikan dengan Sarah, Putra hanya dikenal sebagai bagian dari kelas Internasional 8-5. Selain itu dia juga dikenal sebagai cowok yang emo. Dingin. Biarpun dia dingin dan pendiam, tapi banyak gadis yang tertarik padanya justru karena sifatnya yang dingin dan pendiam. Bayangkan, dalam sebulan dia sudah punya pacar. Tidak, bukan Putra yang meminta gadis itu jadi pacarnya, melainkan gadis itu sendiri. Gadis itu namanya Fuyuriin. Seperti tipikal gadis Jepang umumnya, matanya sipit dengan rambut sebahu. Entah dari sananya dia memang anggun atau dia sedang merasa senang sudah memenangkan hati Putra. Namun sebenarnya Putra tidak merasa bahagia dengan Fuyuriin. Dia hanya kasihan padanya. Tidak pernah ada rasa apapun untuk Fuyuriin. Bahkan sekarang Putra masih belajar mencintai Fuyuriin. Tidak. Ada yang selalu mengganggunya setiap kali dia menatap mata Sarah.
Bahkan sekarang. Saat dia sedang di kelas, berusaha mengabaikan Fuyuriin yang memaksanya memakan bekalnya. Dan juga mengabaikan anak-anak lain yang bersuit-suit dari luar. Siapa yang sedang dipikirkan Putra? Siapa? Sarah jawabannya.
“Putraa.. yuk makan duluu.. yuuk..” bujuk Fuyuriin, namun Putra tidak mengindahkannya. Dia hanya menganggap pacarnya hanya angin lalu saja.
“Kamu kenapa sih? Kamu sakit ya Sayang? Yuk, aku antar kamu sampai ke klinik sekolah.” kata Fuyuriin. Sekali lagi Putra mengacuhkannya. Sampai akhirnya pacarnya kesal. Dia membanting kakinya ke tanah lalu melangkah keluar kelas dengan muka dongkol. Dan teman-temannya, yang merasa kehilangan tontonan gratis, melangkahkan kaki mereka keluar.
Putra melangkah ke jendela. Dia sendiri sekarang di kelas. Dari jendela dia melihat Sarah beserta gengnya sedang bermain Kucing Dalam Lingkaran. Putra mencoba menemukan dimana Sarah. Dan dia menemukannya. Hari ini gadis itu memakai baju gaun santai warna pink lembut, sama seperti teman-temannya. Hanya saja warnanya berbeda-beda. Rambutnya yang selengan dibiarkan terurai begitu saja. Sekarang rambut hitamnya tampak sangat berkilau di bawah sinar matahari. Dia tampak sangat menarik hari ini.
Seperti halnya Putra, Sarah juga memikirkan Putra dan sensasi yang dia rasakan dulu saat dia bertengkar di pesawat. Akhirnya, karena rasa penasarannya sudah memaksanya bertanya pada orang lain, dia bertanya pada kakak angkatnya saat sebelum tidur.
“Yumei… aku boleh tanya sesuatu?” kata Sarah. Yumei mengangguk. Lalu Sarah menceritakan semuanya. Perasaannya waktu itu, pertengkaran mereka, dan sensasi itu. Yumei hanya diam mendengarkan dengan seksama. Setelah Sarah selesai bercerita, Yumei malah tertawa sambil berkata,
“Kau tahu, itu namanya cinta!”
***********
“Memangnya kamu sebegitu pentingnya…!!! Memangnya aku nggak punya urusan lain!!! Masa setiap hari aku harus mengurusi kamu terus!! Aku kan juga bisa bosan!!!” Sarah mendengar teriakan dengan suara yang sangat dikenalnya. Arahnya dari taman. Itu suara Putra. Sarah diam di tempat. Tak tahu sebaiknya melakukan apa. Menemuinya atau tidak mengganggunya.
“Kalau kamu nggak mau ya sudah!!! Masih banyak cowok yang lebih baik dari kamu!!!” suara Fuyuriin, desis Sarah. Rupanya mereka sedang bertengkar hebat. Sekejap kemudian mereka dikerumuni orang-orang yang sedang berlalu lalang. Mungkin mereka penasaran akan seperti apakah ending dari pertengkaran tersebut. Sarah hampir saja kelepasan tertawa mengingat hipotesisnya sendiri. Konyol.
Tiba-tiba kerumunan itu menyeruak. Fuyuriin keluar dengan bercucuran air mata. Kerumunan itu pun mulai bubar. Putra terduduk di kursinya, menunduk dalam sekali. Sarah baru tahu kalau Putra bisa menunduk sedalam itu. Lalu dia merasa perlu menghibur Putra.
“Pak, cappucinonya tambah satu lagi yaa..” pesan Sarah pada penjual cappucino. Setelah memegang dua cappucino tersebut, dia menghampiri Putra. Dia berdiri tepat di depan Putra dan menyodorkan segelas cappucino di tangannya. Tanpa sepatah katapun.
Putra mengangkat kepalanya. Lalu tanpa bicara apapun, dia menerima cappucino yang diberikan Sarah. Sarah duduk di kursi, tepatnya di samping Putra. Memang Sarah anak yang sangat ingin tahu, jadi dia bertanya pada Putra.
“Kamu dan Fuyuriin putus ya?” tanya Sarah. Putra memandang Sarah seolah-olah dia sedang katarak atau rabun ayam. Tapi Putra mengangguk dan meminum cappucino dari Sarah.
Dari sini Sarah bingung harus senang atau ikut sedih.
“Fuyu egois. Dia minta aku temani dia kemana-mana. Padahal aku lelah sekali, bahkan untuk berdiri saja susah.” kata Putra setelah beberapa saat keheningan menguasai mereka. Sarah hanya mengangguk-angguk.
“Aku pulang dulu. Kasihan nanti Yumei dan Hanaka menunggu kue dadar ini.” kata Sarah sambil menunjukkan kotak berisi kue dadar pesanan Yumei dan Hanaka. Lalu Sarah berdiri dan melangkah meninggalkan Putra. Lalu Sarah berdiri dan melangkah meninggalkan Putra. Tiba-tiba Sarah merasa ada yang berjalan di sampingnya. Saat dia menoleh, ternyata Putra berjalan menyejajari langkahnya. Sarah merasa mukanya memerah.
“Terimakasih…err…cappucinonya,” kata Putra. Sarah mengangguk pelan. Kemudian mereka berjalan menembus dinginnya musim dingin Tokyo.
***********
Sampai di rumah, Sarah disambut dengan derai tawa Hanaka dan celotehan Yumei memarahi adiknya. Sarah juga tertawa disambut pemandangan seperti itu. Hanya Putra yang tetap diam. Sarah memandangnya heran.
“Kau tahu, aku baru lihat hanya kamu satu-satunya yang tidak tertawa melihat pemandangan ini. Padahal kan lucu,” tanya Sarah heran. Putra hanya menggeleng. Entah apa maksudnya.
Akhirnya, setelah memberikan kue dadar pada Yumei dan Hanaka, Sarah beranjak ke kamar dengan alasan sudah mengantuk. Demikian juga dengan Putra. Hanya saja Sarah tahu alasan Putra masuk ke kamar lebih cepat bukan hanya karena mengantuk. Sarah tahu Putra terluka meski dia mengakui dia tidak pernah menyayangi Fuyuriin.
Setelah Sarah masuk ke kamarnya, dia memikirkan tentang perasaannya tadi saat mereka di taman. Semuanya berkelebat di benak Sarah. Seperti flashback. Saat dia menemukan Putra dan Fuyuriin bertengkar. Perasaan senang menguasai hatinya waktu itu. Dan waktu dia memberikan cappucinonya pada Putra. Saat Putra menyejajari langkahnya. Dan juga ucapan Yumei dulu. Tentang hipotesisnya. Sampai akhirnya gadis itu terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh lagi. Dia tertidur dengan banyak perasaan bercampur di benaknya.
***********
Sarah tidak tahu apa yang membawa kakinya melangkah ke mading sekolah saat jam istirahat. Di sana dia melihat pengumuman yang cukup membuatnya kaget.
Lomba dansa Waltz! Dalam rangka ulang tahun sekolah? Mengapa harus dansa Waltz?! Dari sekian banyak lomba, mengapa harus lomba dansa Waltz? Para anak perempuan di belakangnya mulai saling berbisik atau ada pula yang histeris. Sarah tidak mengerti. Mengapa harus seperti ini? Dia yakin nanti hanya dia yang tidak punya pasangan dansa. Paling-paling semua teman TeensLife-nya sudah punya pasangan dansa semua. Sarah menghela napasnya berat. Kalau tahu begini, baiknya dia tidak usah tahu sekalian saja!
Sekilas dia melihat Putra melihat pengumuman itu dengan muka tidak minat sama sekali. Entah apa yang merubahnya, tiba-tiba raut wajahnya menjadi bersemangat. Sarah memang penasaran, namun hatinya sedang bad mood karena acara itu. Jadi dia tidak memedulikannya.
Lain halnya dengan Putra. Dia sangat antusias dengan acara tersebut. Ya, sepertinya semuanya sudah tahu bahwqa Putra putus dari Fuyuriin. Dan diam-diam, mereka ternyata bersaing, siapa yang lebih cepat mendapatkan pengganti satu sama lain. Mungkin saja Fuyuriin sedang bingung. Tapi Putra tidak. Dia sudah tahu siapa yang akan dia ajak ke pesta dansa itu. Dia tahu. Bahkan mungkin, dia bisa menggantikan posisi Fuyuriin! Putra tersenyum sendiri tanpa sadar. Dia yakin hal itu akan terjadi!
Pada hari-hari selanjutnya, pesta dansa itu hampir terlupakan. Aku bilang hampir, jadi belum sepenuhnya terlupakan. Sarah mendengus kesal setiap kali dia mendengar pesta dansa itu disebut-sebut. Namun Putra malah tersenyum. Dia bahkan menghitung mundur sampai hari pesta itu dilaksanakan.
Sebenarnya siapa sih yang akan diajak Putra saat pesta dansa itu? Well, hanya Putra yang tahu. Padahal banyak gadis yang memintanya untuk menjadi pendampingnya di pesta itu. Tapi Putra tidak menghiraukan mereka. Tekadnya sudah bulat.
*************
Sampai akhirnya hari itu datang, hari dimana akan dilaksanakan pesta dansa tersebut, Sarah masih jengkel. Tapi dia berusaha untuk mnengalihkan pembicaraan setiap kali ada yang menanyainya tentang pesta dansa itu, apapun pertanyaannya dan siapapun yang bertanya. Semuanya tidak sabar untuk menunggu malam nanti, Sarah malah berharap agar siang itu berlangsung sangat lama.
Saat malam akhirnya tiba, Sarah yang mulanya memaksa untuk tidak ikut, akhirnya menyerah. Dia keluar kamarnya dengan muka berlipat-lipat. Tapi pakaiannya sangat anggun. Gaun sederhana warna biru langit dengan pita di bagian bawah gaun tersebut. Dia memakai sepatu model pantofel yang warnanya juga biru langit. Rambutnya digerai begitu saja.
Sampai di sekolah, Sarah masih kesal. Dia yakin dia akan sendiri. Sangat yakin. Hampir saja dia tersandung karena terlalu sibuk memikirkan kekesalannya. Dia melihat teman-temannya menghampirinya. Setelah bicara sebentar, mereka memasuki Great Hall.
Suasana di sana sangat meriah dan anggun. Dinding-dinding dihiasi dengan beberapa gambar-gambar yang Sarah kenali sebagai gambar anak-anak kelas 7. Karpet merah menyambut mereka. Dimana-mana terdapat meja yang berisi banyak makanan dan minuman. Semuanya yang hadir di sana terlihat senang. Kecuali Sarah tentunya.
Dari jauh terdengar alunan manis musik waltz. Sarah, Airin, Kiirin, Hana, Himawari, dan Hinagiku duduk di salah satu meja. Pertama, Hana diajak berdansa oleh anak kelas 8-3, lalu Airin oleh pacarnya, anak kelas 9-4. Lalu Himawari diajak oleh seorang anak kelas 7 yang polos. Hima tersenyum. Begitu populernyakah dia sampai anak kelas 7 pun mengajaknya berdansa?, pikir Sarah. Lalu Kiirin, oleh seorang yang Sarah pikir anak kelas 8-1. Hanya tinggal dia dan Hinagiku. Tiba-tiba Hinagiku dihampiri oleh seorang anak kelas 9. Dia memandang Sarah dengan perasaan bingung.
“Sudahlah, Hina-chan. Pergi saja dengannya. Aku tidak apa-apa disini,” jawab Sarah menjawab pertanyaan yang tak terucapnya Hina-chan.
“Kau yakin, Sarah chan?” tanya Hina-chan memastikan. Sarah mengangguk pasti. Lalu Hina tersenyum dan beranjak dari sana bersama anak kelas 9 yang tadi mengajaknya. Sarah menghela napas. Kini dia sendiri. Benar, kan, pikirnya kesal. Tidak akan ada yang mengajakku. Namun tiba-tiba ada sebuah tangan terulur di depannya. Ketika Sarah mengangkat kepalanya, dia melihat wajah yang selama ini mengganggu pikirannya. Yang selama ini ada di pikirannya. Sekarang orangnya sedang berdiri di depannya!!
“Mau dansa denganku tidak?” tawar anak itu, yang ternyata Putra. Sarah mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursinya. Putra mengambil tangan Sarah dengan lembut, lalu membawanya ke lantai dansa. Bergabung dengan peserta dansa lainnya. Sarah merasa mukanya memerah dan jantungnya berdebar-debar.
Sementara Putra, dia juga merasa mukanya memerah. Padahal dia sudah berusaha rileks, tapi tetap saja detak jantungnya berpacu dengan waktu, sangat kontras dengan musik waltz yang mengiringi dansa mereka. Mereka berdansa sebaik mungkin, sementara dari kejauhan, Airin, Kiirin, Hana, Himawari, dan Hinagiku tersenyum mendukung Sarah. Sarah juga dapat merasakan tatapan iri dari banyak gadis di belakang. Sarah tersenyum bahagia. Dia merasa bahagia karena orang yang selalu di pikirannya sekarang ada di depannya, bahkan tadi mengajaknya berdansa. Dia berusaha menikmati setiap detiknya saat-saat impiannya, bersama orang yang paling dia sayang. Dia ingin ini berlangsung selamanya..
Begitu juga dengan Putra. Dia bahagia karena rencananya berjalan mulus. Dia berhasil mengajak Sarah dansa tanpa keduluan oleh orang lain. Dan dia juga aman dari kejaran para gadis gila yang mengejar-ngejarnya untuk mengajaknya ke pesta dansa.
Sarah merasa ini adalah momen terindah selama hidupnya.
*************
“Saraaaaahh…!!! Itu hujan kok jemurannya nggak diangkaaaattt….!!!” Sarah terbangun dari lamunannya tentang masa-masa pertukaran pelajarnya di Jepang karena teriakan teman sekosnya, Kaina. Buru-buru Sarah mengangkat jemurannya di teras.
Ya, sekarang Sarah tinggal di kosan dekat kampusnya. Di sini punSarah banyak teman. Ada Kaina yang cerewet dan punya suara stereo, ada Lilla yang kalem dan pendiam, ada pula Ariana yang selalu menghiburnya kala dia sedih. Khusus untuk Ariana, Sarah punya sebutan sendiri untuknya kalau jiwa jahilnya sedang kumat. Yaitu Dumbledore’s little sister, karena namanya mirip dengan nama adik Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts dalam novel Harry Potter kesukaan Sarah. Tapi tetap saja karena Ariana anak yang periang, sapaan itu tidak berarti apa-apa baginya.
Setelah mengangkat jemurannya dan memindahkannya ke dalam kamar, Sarah memutar mp3 miliknya lalu mengambil salah satu judul novel Harry Potter. Ah, ternyata yang terambil adalah buku terakhir, Harry Potter and the Deathly Hallows. Lalu dia tenggelam dalam buku tersebut sampai malam.
“Saraaahhh…ini ada titipan dari..emm…nggak tau siapa!! Yang penting kamu buka dulu nih pintu!!” Sarah terbangun esok paginya karena teriakan keras Kaina. Ternyata dia membaca dan ketiduran sampai pagi. Lalu dia mebuka pintu dan mempersilahkan Kaina masuk.
“Dari siapa? Yang mengantar siapa? Pos ya?” tanya Sarah beruntun. Kaina menggeleng.
“Orang aneh. Pake helm. Pake motor. Aneh..” jawabnya. Karena penasaran, Sarah membuka bungkusan itu. Isinya ternyata bunga. Mawar putih. Ada tulisannya juga.
“Halo, apa kabar? Sudah lama ya tidak ketemu. Masih ingat pesta dansa di Jepang?” tulisan itu berbunyi seperti itu. Lalu ingatan Sarah melayang lagi pada seseorang di SMP. Dia tidak menghiraukan berondongan pertanyaan dari Kaina. Sarah tersenyum.
Dia tahu siapa pengirimnya… dia tahu.
Selesaaaaaaaaii!! Yaampuun, keren nggak? Komeeeeeeen! kudu fardhu wajib musti harus!
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Rating : T kali yaa..
Timeline : Marauders era
Disclaimer : hmm…dengan berat kunyatakan bahwa semua tokoh punyanya tante JK Rowling. Yang kupunya hanya imajinasi dan jalan cerita.
Tambahan : Credit to D’Masiv untuk lagunya yang liriknya dalem banget : Di Antara Kalian
Ini hari pertama musim semi. Langit cerah, matahari bersinar terang. Bunga-bunga bermekaran di antara sisa-sisa salju yang belum mencair. Semuanya bergembira. Bahkan Dedalu Perkasapun menggoyangkan dahan-dahannya, mungkin dia bahagia juga.
Tapi tidak untuk Snape. Semuanya sama. Kelabu. Tidak ada yang berwarna lagi sejak Lily menerima James. Ya, sekarang mereka sepasang kekasih. Tertutup sudah harapan Snape untuk mendapatkan Lily Evans.
Kuakui ku sangat sangat menginginkan mu
Namun kusadari ku diantara kalian
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi
Snape sangat menginginkan Lily. Sangat. Tapi sekarang Lily milik James. Dia sadar bahwa dia diantara mereka. Snape tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi. Hei, yang dekat duluan dengan Lily kan dia! Mengapa bisa James yang mendapatkan hati Lily?!
Padahal, apa sih yang membuat Lily jatuh cinta pada James? Sudah bandel, norak, gaya rambutnya acak-acakan lagi! Dia memejamkan matanya, mencoba membayangkan dia dan Lily sedang berkejaran di padang rumput yang luas. Namun tiba-tiba muncul James dan menarik tangan Lily menjauh dari Snape, lalu dia ditinggalkan dalam kegelapan sendirian. Snape membuka mata. Ah, bahkan bayangannya saja tak mengizinkannya bersama Lily. Yah, mungkin ini takdir.
Ku akui ku sangat sangat mengharapkan mu
Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi
Mengapa harus James yang akhirnya dengan Lily?! Padahal masih banyak cowok lain yang lebih baik darinya! Kenapa harus James yang selalu memanggilnya Snivellus yang akhirnya memiliki seluruh hati Lily?!
Snape berusaha mencari jawabannya, mencari ke mana-mana. Meneliti apa kelebihan James. Apa? Tidak ada yang─setidaknya menurut Severus─menarik! Tidak ada. Seberapa kerasnya Snape berusaha mencari jawabannya, hasilnya tetap nihil.
“Severus!” seseorang memanggilnya. Snape menoleh. Oh, dia! Itu dia! Lily Evans! Tapi kenapa pula pujaan hatinya itu menghampirinya? Apakah ada masalah?
“Tadi di kelas Ramuan kau terlalu banyak diam dan menerawang. Kau kenapa? Tidak sakit kan?” Snape tertohok. Oh, ternyata Lily masih memperhatikannya walau hanya sekilas. Snape merasa dia sedikit melayang. Sesuatu mengangkatnya dari tanah.
“Aku sehat Lily. Terimakasih.” jawabnya, dingin dan cepat. Lily terkejut dengan nada bicara yang dilontarkan oleh Snape. Bahkan Snape sendiri bingung dan terkejut. Hatinya sekarang panik. Bagaimana kalau Lily berbalik membenciku lagi?
Lupakan aku kembali padanya
Aku bukan siapa siapa untukmu
Ku cintaimu tak berarti bahwa ku harus milikimu slamanya
“Dengar. Kenapa sejak aku menerima James kau jadi makin kacau begini? Apakah ada masalah? Atau mereka menjahilimu lagi?” Lily memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Snape ingin sekali berteriak, aku cemburu!! Tapi lidahnya serasa beku. Kelu di tempat. Kesunyian menguasai mereka selama beberapa saat. Hanya suara burung-burung yang berkicau yang terdengar. Lily menatap lurus ke mata Snape, membuatnya sedikit salah tingkah.
“Pergi.” kata Severus akhirnya,”aku tidak membutuhkanmu lagi. Sana pergi saja ke Potter.”
“Kenapa nada bicaramu sangat ketus, Severus? Memangnya salah kalau aku bersama Potter?” balas Lily, nadanya agak tinggi. Lalu Severus menatap mata hijau Lily. Suara dan pandangannya lebih lembut daripada pandangannya yang tadi.
“Pergi, Lily. Tidak apa-apa. Aku biasa saja. Aku..err…ada urusan. Selamat tinggal.” Katanya. Lalu dia memalingkan kepalanya. Takut dia tidak bisa pergi karena terlalu lama menatap mata hijau Lily yang indah.
“Hm…okey. Aku pergi dulu.” Kata Lily akhirnya. Lalu Severus meninggalkan tempat itu. Tanpa menunggu salam Lily. Terus saja dia berjalan sampai ke kamarnya di asrama Slytherin. Lalu dia tidur sampai pagi.
Paginya, matahari masih bersinar cerah dan semuanya masih indah dan berjalan normal. Hanya saja Snape tadi bermimpi bertemu dengan seseorang. Ibunya.
“Severus, jangan kau putus asa. Jangan menyerah, namun apabila hal itu tidak dapat kau raih, tunggulah hal baik lainnya. Percayalah, apabila rencana dan harapanmu tidak dapat kau raih, tunggulah. Tuhan pasti punya skenario yang lebih indah daripada yang kau bayangkan sekarang. Apapun yang kau lakukan untuk kebaikan, aku bangga akan hal itu.” Lalu ibunya menghilang dan dia terbangun. Dia memikirkan kata-kata ibunya di dalam mimpi tadi. Mungkin memang ini yang terbaik untuknya.
Jadi kemudian dia turun ke Great Hall dengan perasaan yang lebih ringan daripada kemarin. Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk melupakan Lily sudah bersama Potter. Yah, mungkin ini yang terbaik. Lalu dia tersenyum diam-diam mengingat kalimat ibunya yang paling dia ingat.
Percayalah, apabila rencana dan harapanmu tidak dapat kau raih, tunggulah. Tuhan pasti punya skenario yang lebih indah daripada yang kau bayangkan sekarang…
Gimana? Keren nggak? koooomeeeeeeeeen! Wajip!
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Timeline : Harry Potter Dkk era
Rating : hmmm…T kali yaa. Aku bingung ngasih ratingnya.
Genre : Family
Related Fanfic : Percy’s Rebellion (OOTP Missing Scene) punya Verdo. Aku udah ijin kok. Ini sidestorynya pake PoV Percy
Disclaimer : semua tokoh punya JKR. (andai saja itu punyakuu…*digetok, kapan mulainya ni ceritaa?!*)
“Selamat, Percy. Kini pangkatmu adalah Asisten Junior Menteri. Selamat mengerjakan tugas barumu, Nak.” Kata-kata Menteri membuatku sedikit melayang. Mulanya kupikir dia memanggilku karena kesalahan yang tidak kusadari. Namun ternyata aku dinaikkan jabatannya! Keluargaku harus tahu!
“Terima kasih atas pengangkatan jabatannya, Pak.” Kataku dengan bangga sembil menjabat tangan pak Menteri. Dia mengangguk dan berkata lagi,
“Kau akan dapat fasilitas baru berupa flat mewah beserta semua yang kau perlukan. Kau bisa memulai tugas barumu besok, Nak. Sekarang kau bisa memberitahu keluargamu tentang kabar bahagia ini.” Wow, flat mewah! Ini terlihat seperti mimpi..lalu aku keluar dari ruangan itu sambil sedikit bersenandung. Aku bertemu rekanku, Linnie Sara Carnette. Tampangnya sedang sangat kusut. Aku mendengarnya menggerutu.
“Kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti ini sih. Ini merepotkan!” Ya, bisa kulihat dia sedang repot. Rambut panjangnya yang hitam sedikit acak-acakan. Dia membawa setumpuk kertas yang entah apa isinya. Dia bekerja di bagian yang aku lupa namanya, hanya saja pekerjaannya adalah melacak penggunaan sihir di dunia Muggle oleh anak di bawah umur.
“Halo, Linnie. Repot, eh?” Aku menyapanya, mencoba ramah. Memang dari dulu aku tidak pernah suka dengan anak ini. Karena dia ternyata adalah pembela Dumbledore. Aku baru tahu belakangan saat gosip bahwa Kau-Tahu-Siapa bangkit kembali. Hei, dia mempercayai Potter! Ya ampun!
“Apa, Percy? Debat kusir? Tidak, jangan sekarang. Aku sibuk.” Balasnya. Kalau yang itu aku juga tahu! Tidak perlu dikatakan juga semua yang melihatnya pasti akan bilang dia wanita yang sangat sibuk.
“Hanya ingin berbagi kebahagiaan. Boleh kan?”
“Jangan sampai menggangguku.”
“Aku sekarang Asisten Junior Menteri.” Ha. Dia pasti kaget kan? Matanya melotot melotot tidak percaya. Dia tidak akan pernah mengira kalau aku akan naik pangkat kan? Hehehe. Lalu kutinggalkan Linnie yang masih bengong. Aku pun ber-Apparate ke rumah lamaku, The Burrow.
Sampai di sana aku disambut oleh keluargaku dengan meriah. Dad sedang membaca Daily Prophet. Keningnya berkerut, mungkin ada yang dia tidak setujui dari salah satu artikel di sana. Mum sedang memasak untuk semuanya dan adik-adikku sedang menunggu makanan di meja makan. Oh, ada Bill kakakku juga ternyata.
“Percy anakku!! Sudah tiga hari kau tidak pulang! Aku sangat merindukanmu anakku..kau sudah makan? Ayo makan dulu. Lalu kau berkemas ya.” Kata Mum. Aku juga merindukanmu, Mum..
“Berkemas? Mau kemana kita?” tanyaku. Apakah liburan? Seingatku ini bukan musim liburan.
“Nanti Mum jelaskan. Sekarang makan dulu.” Jawab Mum.
“Tidak, aku sudah makan bersama pak Menteri.” Aku berkata sambil duduk di kursi berlengan juga, di seberang Dad. Sekarang ganti Dad yang terkejut. Kenapa Dad jadi begitu noraknya? Masa dia menganggap aneh kalau aku makan bersama pak Menteri? Aku memutuskan untuk tidak menghiraukan perubahan raut wajah mereka. Berita baik ini harus kusampaikan!
“Dan tebak apa? Aku naik pangkat!” hei, harusnya mereka senang dong. Kok malah bengong?
“Naik pangkat?” kata Bill, seolah ini mustahil. Aku melihat Ginny dan Ron memandang Fred dan George. Apa yang mereka inginkan?
“Baguslah, jadi sekarang kepala Departemen Sihir Internasional akan mengingat namamu Weasley, bukan Weatherby!” kata George. Aku menggeleng. Ha, mereka mengira aku masih bekerja di sana.
“Aku tidak di sana lagi. Sekarang aku Asisten Junior Menteri!” tidak ada reaksi dari keluargaku. Tidak ada satupun reaksi kegembiraan. Hei, ada apa dengan mereka?
“Berita yang menggembirakan, hanya saja kalau keadaan tidak segenting ini.” Kata Mum. Aku sangat tidak setuju! Apanya yang genting?
“Maaf Nak. Justru malah aneh kalau kau naik pangkat dalam keadaan seperti ini mengingat jabatanmu dulu sebagai asisten Mr. Crouch yang dipengaruhi Imperius Kau-Tahu-Siapa.” Imbuh Dad suram. Sama suramnya dengan nada bicara Mum tadi. Seketika aku jadi marah. Keriangan yang tadi kurasakan menguap entah ke mana.
“Mr. Crouch dipengaruhi Kutukan Imperius Kau-Tahu-Siapa? Itu kan hanya dongeng yang diceritakan Dumbledore pada seluruh dunia sihir.” Aku bicara dengan tenang.
“Itu bukan dongeng! Itu nyata! Justru Fudge-lah yang berbohong. ‘Keadaan baik-baik saja, saudara-saudari komunitas sihir. Berita tentang kebagkitan kembali Kau-Tahu-Siapa hanyalah dongeng karangan The Boy Who Lies, Anak Yang Berbohong’.” aku tahu dad mengutipnya dari Daily Prophet. Wajahku pucat. Aku panik.
“Jangan bilang begitu, Dad. Kau bisa dipecat kalau dia dengar tentang ini!” kataku panik. Aku shock dengan pernyataan Dad tadi.
“Biar saja. Aku tidak akan menyangkal. Sadarkah kau bahwa kau diangkat jadi Asisten Junior Menteri untuk memata-mataku agar dia punya alasan untuk memecatku?” kata Dad.
“Sadar kok. Sangat sadar malah.” Dad terkejut dengan pernyataanku ini, ”Harusnya dad setia pada Kementrian. Untuk apa percaya pada orang tua yang suka mendongeng. Harusnya Dad memberitahu apa rencana Dumbledore untuk merebut posisi Menteri Sihir. Dad bisa lebih terhormat daripada Lucius Malfoy.” Tambahku. Harusnya Dad setia pada Kementrian saja sepertiku ya, bukannya malah membela Dumbledore.
“JADI FUDGE MENGANGGAP DUMBLEDORE INGIN MEREBUT POSISINYA?!” teriak Dad. Semua yang ada di sana terkejut. Bahkan mungkin cicak di belakang lemari sudah koit saking kagetnya mendengar teriakan Dad. Aku juga jadi sedikit gentar mendengarnya. Dad belum pernah berteriak sedahsyat itu! Namun aku segera mengandalikan diriku.
“Yah, sudah jelas kan? Fudge meminta nasihat Dumbledore saat pertama kali menjabat. Pastilah orang tua itu memanfaatkan ketakutan Fudge.” Jawabku. Wajah Dad memerah. O-ow.. sepertinya pertanda buruk!
“Itu tidak benar! Dan kembalinya Kau-Tahu-Siapa itu kenyataan! Kami semua di sini percaya pada Dumbledore!” Teriak Dad. Well, kesabaranku ada batasnya, dan ini sudah melewati batas! Sayang sekali tidak ada tokek atau cicak lewat. Aku ingin mencekik sesuatu!
“Berarti kalian idiot!! Percaya pada orang tua sinting dan The Boy Who Lies!” Teriakku. Aku sudah sangat marah! Tiba-tiba Ron melonjak dari kursinya dan berteriak,
“Beraninya kau menghina Prof. Dumbledore dan Harry…!!!” Lalu adik bungsuku Ginny ikut melonjak dan berteriak juga,
“Dan kami tidak idiot!! Dan jangan pernah menghina Harry!!” Oh, sepertinya adik bungsuku ini sudah terkena pesona gemerlap seorang Potter. Aku tidak menyangka! Aku memutar bola mataku. Semua yang ada di sini lebih idiot dari yang kubayangkan ternyata!
Namun tiba-tiba aku terdiam. Ginny yang sedang marah sangat mirip dengan Mum. Yeah, aku tidak terbiasa dimarahi Mum (biasanya yang dimarahi Ron, Fred, dan George) jadi aku agak kaget. Tapi aku langsung menguasai diriku lagi.
“Apa namanya kalau bukan idiot?” kataku pedas. “Kalau kalian setia pada Kementrian bukan idiot namanya. Mana mau aku mempertaruhkan jabatanku hanya untuk Dumbledore dan si Potter bodoh itu..!!”
“Potter? Ooh.. begitu caramu memanggil Harry setelah dia jadi bulan-bulanan Kementrian?” bentak Fred.
“Luar biasa kakak kita yang penuh ambisi untuk menjadi Menteri Sihir Termuda. Menunjukkan kualitasnya sebagai karyawan setia!” sambung George sinis. Beraninya mereka berkata begitu padaku!
“Apa salahnya memiliki ambisi bagus seperti itu? Daripada Dad, ambisinya hanya mengetahui bagaimana burung besi Muggle tetap berada di udara.” Kataku pedas. Aku sudah tidak peduli dengan apa yang kuucapkan!
“Jangan pernah menghina Dad!!” kata Bill sambil menggebrak meja hingga roti panggangnya terjatuh. Namun aku mengabaikannya.
“Dan gara-gara reputasi Dad yang buruk, aku jadi dicemooh oleh semua orang di Kementrian! Apalagi Dad lebih suka berurusan dengan sampah-sampah Muggle. Makanya kita masih miskin sampai sekarang!” kataku lagi.
“CUKUP!!!” teriak Mum saat kupikir emosi Dad sudah hampir pada puncaknya. Lalu Dad berkata lagi,
“jadi kau tidak suka kalau kita selama ini hidup dalam kemiskinan? Jadi kau lebih suka kaya tapi dengan uang haram?” lalu aku menyahuti perkataannya.
“Tidak haram selama aku sebagai Asisten Junior Menteri.” Ujarku puas. Aku merasa menang kali ini!
“Kenapa masih di sini? PERGI SAJA KAU DARI SINI!!” raung Dad. Hah. Sangat mudah ditebak.
“TIDAAAAAKKK..!!! Arthur!! Dinginkan kepalamu…jangan bilang begitu!!” Mum meraung. Aku jadi merasa sedikit bersalah, tapi kemudian kukuasai lagi diriku.
“Baiklah! Toh pak menteri telah memberiku flat mewah. Tadinya aku mau mengajak kalian pindah ke sana. Tapi mana mungkin aku betah dengan orang-orang pembela Dumbledore…!!!” teriakku. Dia pikir aku akan terlantar apa!
“Bagus!! Pindah saja ke sana! Itu maumu kan?!” bentak Dad.
“Arthur, cukup. Hentikan.” Suara Mum mulai melemah. Aku bangkit dari kursiku. Tiba-tiba Bill juga bangkit, “Sori, Perce, aku terpaksa melakukan ini. Imperi..”
“Expelliarmus!! Bill! Teganya kau melakukan Kutukan Tak-Termaafkan pada adikmu sendiri!! Aku memang ingin dia tinggal tapi tidak dengan paksaan! Apalagi Kutukan Imperius!” jerit Mum. Lalu dia berpaling padaku, “Percy, nak, baiklah kalau kau mau pergi. Tapi bisakah kau beri alamat flatmu agar aku..aku bi..bisa mengunjungimu..?” tanya Mum, suaranya yang bergetar menimbulkan perasaan bersalah, namun cepat kututupi.
“Menyentuh sekali Mum. Tapi jangan harap aku akan membukakan pintu! Tidak untuk pengkhianat Kementrian!!” kataku. Lalu aku melangkah ke luar dan siap ber-disapparate ketika Mum memanggilku lagi.
“Kau tidak mengepak ba..barang-barangmu dulu, Percy? Ka..kau pasti me..me..membutuhkannya..” kata Mum. Aku menggeleng.
“Tidak butuh barang rongsokan seperti itu lagi. Semua fasilitas sudah kudapatkan di sana.” Lalu aku ber-Dissaparate dengan bunyi pop pelan. Aku masih dengar teriakan Mum. Sedikit aneh rasanya sudah membentak keluargaku sendiri.
Sampainya aku di flat baruku yang mewah, aku segera duduk di depan perapian. Sangat sepi dan luas di sini. Harusnya aku merasa puas ya. Tapi kenapa seperti ada yang aneh? Tidak ada teriakan protes Ron dikerjai oleh si Kembar. Atau si Kembar menangkap Jembalang di depan rumah. Dan juga suara cicak di belakang lemari. Biasanya aku mendengarnya. Tapi sekarang tidak. Diam-diam aku merindukan mereka. Keluargaku, tentu, bukan cicaknya. Kalau cicak saja mah aku yakin mereka ada di sini. Sambil meminum coklat panas, aku memutar radio. Di radio sedang diputar cerita bermakna. Tentang anak yang durhaka. Legenda ini berasal dari Indonesia sepertinya. Tidak sengaja tertangkap siaran itu. Aku mendengar dengan seksama,
“Jadi begitulah. Malin Kundang pun berubah jadi batu karena sudah tidak menganggap lagi keluarganya karena gemerlap harta dan kekuasaan. Apalagi dia membentak ibunya.” Begitu sepenggal legenda tersebut yang paling aku ingat. Air mataku jatuh saat itu juga. Penyesalanku semakin dalam. Mengapa aku bisa dibutakan oleh kekuasaan dan harta?! Mengapa aku membentak keluargaku sendiri?! Tiba-tiba aku teringat Mum yang berteriak mencegah Bill meng-Imperius-ku. Mum yang mencegah Dad lebih marah lagi. Mum juga mencegahku pergi. Aku merasa kerdil. Kenapa aku masih berani membentaknya setelah pembelaan-pembelaannya terhadapku?! Lalu kalimat penyesalan keluar dari mulutku diiringi air mata yang terus membanjir,
“Maafkan aku, Mum…” aku harap Mum tahu aku meminta maaf dengan segenap penyesalanku. Aku harap Mum masih mau memaafkanku.
Happy ending specialist, am I? Don’t judge me too fast!
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Timeline : Harry Potter dkk era
Tokoh : Harry Potter dan Ginny Weasley (doang!)
Lagu yang dipake : Heaven-DJ Sammy ft Yanou & Do (I love this song!)
Disclaimer : Semuanya punya tante JK Rowling yang baik hati…aku cuma anak baik yang minjem karakternya…
Bulan bersinar terang. Alam sepi. Hanya ada gemericik air yang sesekali terdengar. Dan di pinggir danau terlihat dua remaja sedang duduk. Mereka tak lain adalah Harry Potter dan Ginny Weasley. Tak ada kata-kata yang harus terucap dari mulut mereka. Tentu saja karena mereka sudah mengerti apa yang dirasakan masing-masing, apa yang ada di dalam hati mereka pastilah sama. Kesepian menyelimuti mereka. Bintang menaungi mereka.
Ginny menghela napas bahagia. Dia masih ingat tahun-tahun pertamanya di Hogwarts. Dan tentu saja pertemuan pertamanya dengan cinta pertamanya.
Harry Potter.
Oh, thinkin’ about all our younger years
There was only you and me
We were young and wild and free
Ginny masih ingat tahun pertamanya di Hogwarts, dia pernah dirasuki Voldemort. Dan saat dia sadar dia sudah berada di samping cintanya. Idolanya. Ternyata Harry berkorban hanya untuk menyelamatkannya. Padahal, Ginny berpikir toh apabila dia tidak selamat juga Harry tidak akan rugi. Tapi tidak. Harry bersedia menyelamatkannya. Karena itu dia jadi semakin mengidolakan Harry.
Dan dia tersenyum-senyum sendiri. Dia ingat betapa gugupnya dia di depan cintanya. Betapa kikuknya dia sampai tidak bisa bicara sepatah katapun. Sempat dia berpacaran dengan yang lain atas saran Hermione. Dia jadi tidak terlalu gugup lagi di depan Harry, tapi tetap saja Ginny tak bisa berhenti menyukainya.
Now nothin’ can take you away from me
We’ve been down that road before
But that’s over now
You keep me comin’ back for more
Ya, sekarang tidak ada yang bisa mengambil Harry darinya. Dia telah memastikan perasaan Harry, apakah dia benar-benar menyukai Ginny atau tidak. Dan Ginny pun akhirnya mendapatkan apa yang dari dulu ia impikan.
Baby you’re all that I want
When you’re lyin’ here in my arms
I’m findin’ it hard to believe
We’re in heaven
Ginny menyenderkan kepalanya di bahu Harry. Harry hanya memandangnya dengan penuh sayang. Mereka merasa seperti di surga, karena mereka mendapat semua yang mereka inginkan. Tidak ada yang lebih diinginkan Ginny selain dapat bersama Harry selamanya. Begitu pula dengan Harry. Yang dia inginkan hanyalah kehadiran Ginny di sisinya selamanya.
And love is all that I need
And I found it there in your heart
It isn’t too hard to see
We’re in heaven
Ginny menatap mata hijau Harry. Dan Harry menatap mata coklat Ginny. Mereka saling melihat ada ketulusan cinta di sana. Cinta yang murni, tidak palsu dari hati masing-masing. Cinta mereka bukan cinta main-main, melainkan cinta yang bertanggung jawab.
I’ve been waitin’ for so long
For somethin’ to arrive
For love to come along
Now our dreams are comin’ true
Through the good times and the bad
Yeah, I’ll be standin’ there by you
Penantian Ginny selama 6 tahun akhirnya berbuah manis. Harry akhirnya bersamanya. Sekarang mimpinya selama 6 tahun akhirnya terwujud. Ginny berjanji dalam hati akan selalu dengannya melewati suka dan duka, berbagi suka dan duka, dan tentu saja tidak akan pernah meninggalkan Harry sedetikpun. Karena dia tak yakin kalau dia dapat tetap hidup tanpa Harry di sampingnya.
“Ginny,” panggil Harry.
“Ya?”
“Mungkin sebaiknya kita kembali ke kastil. Udara sepertinya mulai dingin,” kata Harry pelan. Dia merasakan kepala kecil Ginny mengangguk di bahunya.
Kemudian mereka berjalan bergandengan menuju kastil. Bintang menaungi kepala mereka, bulan bersinar menerangi jalan mereka. Tapi ada satu lagi yang membuat jalan mereka lebih terang. Ada yang lain yang menaungi kepala mereka. Sebuah kekuatan yang sanggup membuat mereka tetap hangat di malam sedingin ini. Kekuatan ini jugalah yang membuat mereka mengerti perasaan satu sama lain. Kekuatan yang dapat mengalahkan kekuatan terjahat sekalipun. Dan kekuatan ini adalah….
Cinta tulus.
FIN
Gimana? Keren nggak? Apa malah norak? Komeeeeeeen!!
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Mungkin kau tidak akan percaya ini
Tapi aku mengagumimu
Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatianku darimu
Kau punya sesuatu yang menarik
Yang memaksaku terus memperhatikanmu
Aku benci ini
Kucemooh semua dongeng tentang cinta
Kubuang jauh semua cerita cinta
Kuabaikan semua lagu cinta
Namun kini aku ditengahnya
Ditengah-tengah cintaku sendiri untukmu
Aku tidak percaya ini
Mungkin kau tidak akan percaya ini
Tapi aku mengagumimu
Semua yang ada pada dirimu jadi menarik
Semua tampak indah ketika kau ada
Rambut merahmu selalu berkibar indah di mimpiku
Mata hijaumu yang bersemangat selalu membiusku
Membuaiku dalam angan-angan memilikimu
Meski aku tahu itu mustahil
Kata-kata penyemangatmu selalu menjadi dongeng yang mengantar senyum di tidurku
Senyummu selalu menjadi penyemangat hidupku
Juga menjadi bunga di dalam mimpiku ketika aku terlena
Kau masih mau berteman denganku
Meskipun kita berseberangan
Aku hanya ingin kau tahu
Kalau aku mencintaimu
Menyayangimu
Dan mengagumimu
Gimana? Gw keren kan? eh, salah. puisinya keren nggak? komen yaaaaaaa.
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Udara malam membekukan setiap jengkal kulitku
Hanya untuk memandangi sesuatu
Sesuatu di langit
Yang terus menggangguku
Callisto
Kisah hidupnya seperti refleksi terjelas dalam hidupku
Refleksi dari jiwaku
Semua perasaanku
Aku menanam perasaan terdalam pada dirimu
Aku mencoba mendapatkanmu meski itu sangat mustahil
Akhirnya kucoba melawan takdir
Namun ia melawanku balik
Menyerang jiwaku tanpa ampun
Membuat luka terdalam di hatiku
Kini aku di sisi kegelapan
Tanpa cahaya sedikitpun
Aku terjebak di sini bersama orang-orang yang kubenci
Aku merindukan cahaya hatimu yang selalu menerangi jiwaku
Andaikan saja aku tidak begitu idiot
Maafkan aku
Komentarin doooong. Gw pengen tau ini aneh atau nggak, soalnya kata temen-temen gw sih gw keren dan manis *diinjek*
Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!