cicak punya wordpress

Best Moments Ever

Posted by: Linnia sarap on: November 7, 2008

Best Moments Ever

Sarah menghela napasnya berat. Banyak sekali yang harus dipikirkannya sekarang. Studinya sekarang sudah hampir memasuki semester duanya di kampus, namun umurnya masih 18 tahun. Itu karena Sarah dianggap pintar, lalu saat SMA pernah dimasukkan ke kelas akselerasi. Jadi dia satu tingkat lebih cepat selesai studinya daripada teman-teman sebayanya. Padahal sama sekali Sarah tidak pernah merasa pintar. Dia hanya mengeluarkan kemampuan otaknya. Itu saja. Tak lebih. Dan dia merasa itu bukan yang disebut kepintaran.

Tiba-tiba ingatan Sarah melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu, saat dia masih menduduki bangku SMP. Saat tahun keduanya di SMP. Waktu itu dia dikirim ke Jepang karena prestasinya yang menonjol di angkatannya. Atau bisa dibilang dialah anak terpintar di angkatannya. Waktu itu dia dikirim ke Jepang untuk program pertukaran pelajar. Dia dikirim ke sana bersama satu anak laki-laki yang dia belum kenal. Tapi pastilah mereka seangkatan.

Di pesawat yang menuju Jepang, Sarah sangat bosan karena tidak ada teman ngobrol. Dia mau berkenalan dengan anak di sebelahnya yang masih memandangi pemandangan di luar. Namun dia sangat canggung dan segan untuk berkenalan dengannya, karena tampang anak itu sangat tidak peduli. Akhirnya, setelah hatinya berperang sengit, Sarah memutuskan untuk berkenalan dengan cowok itu.

“Hai, emm…boleh kenalan nggak?” tanya Sarah. Anak itu hanya mengangguk cuek. Akhirnya Sarah mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.

“Namaku Sarah. Sarah Rena Sevenlia. Kamu siapa?”

“Putra.” Jawabnya singkat. Tak membalas jabat tangan Sarah ataupun senyumnya. Putra masih memandangi pemandangan di luar, padahal jelas-jelas tidak ada yang terlihat di luar sana kecuali awan yang berarak. Untuk memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka, Sarah mencoba berbasa-basi.

“Kamu suka melihat awan ya?” sebenarnya Sarah sangat enggan harus berbasa-basi pada cowok secuek Putra. Tapi daripada tidak ada teman ngobrol, lebih baik mencoba ramah.

“Bukan urusan kamu.” cuek, singkat, dan sangat membuat Sarah jengkel setengah mati. Dia sudah kehabisan ide bagaimana menyikapi Putra. Hatinya sudah mendidih. Belum pernah dia disikapi seperti ini.

“Kenapa sih kamu cuek? Kamu nggak bosan melihat awan terus apa? Setidaknya temani aku ngobrol daripada kamu melamun seperti itu!” rupanya kesabaran Sarah telah sampai pada titik tertingginya. Mata gadis itu melotot pada Putra yang masih saja bergeming. Dipelototi seperti itu, Putra tidak terima diperlakukan seperti itu. Oleh gadis yang baru dikenalnya pula. Dia balas melotot pada Sarah.

“Sekali lagi kubilang ini bukan urusanmu!! Kamu tidak boleh ikut campur urusanku!! Lagipula kamu kan bisa melakukan hal lain selain menggangguku. Aku tidak suka ngobrol tahu!!” balas putra tak kalah sengit. Keduanya masih saling memelototkan mata mereka pada satu sama lain. Mereka tak ada yang mau mengalah. Dua-duanya keras kepala. Mereka berusaha mempertahankan argumen masing-masing.

Tiba-tiba Sarah merasakan hal aneh. Jantungnya berdebar-debar ketika menatap langsung ke dalam mata Putra. Jantungnya seolah mencoba melepaskan diri dari peredaran darahnya, menembus tulang rusuknya dan merobek kulit mulusnya. Sarah juga merasakan wajahnya panas serasa terbakar. Dia yakin sekarang mukanya merah padam. Sarah berpikir mungkin dia sedang sakit atau dia terlalu terbawa emosi yang meluap-luap seperti kawah di gunung berapi. Siap meletus kapan saja.

Demikian juga dengan Putra. Dia merasakan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan selama ini. Ketika dia memandang mata Sarah yang jernih, jantungnya berdebar sampai dia berpikiran Sarah sekalipun dapat mendengar detak jantungnya yang sedang berpacu cepat. Keadaan tidak menjadi lebih baik ketika dia menyadari dirinya hanya selisih tinggi 5 cm dengan Sarah. Dia juga baru menyadari bahwa wajah Sarah sangat mulus tanpa jerawat sedikitpun. Kulit mukanya memerah seperti kepiting rebus. Dia juga memperhatikan rona wajah Sarah yang juga berubah seperti yang sedang dia alami sekarang.

Kemudian keduanya memalingkan muka mereka. Seolah menyerah bersama-sama. Sepanjang sisa perjalanan mereka sebisa mungkin menghindari kontak mata satu sama lain. Mereka saling memikirkan sensasi apa yang tadi melandanya. Sedikit tidak enak tapi lumayan menyenangkan. Seperti terbang ke langit tanpa pengaman, takut jatuh dari ketinggian tapi menyenangkan.

“Perhatian, kepada penumpang pesawat Rajawali jurusan Jakarta-Tokyo, kami informasikan bahwa sebentar lagi kita akan mendarat di bandara terdekat karena cuaca yang buruk. Mohon maaf untuk keterlambatan dan penundaan ini. Terima kasih.” terdengar suara pramugari yang memberi pengumuman. Diam-diam, Sarah mengeluh kecil. Dia sedikit kesal karena penundaan ini. Dan itu berarti lebih lama lagi bersama cowok pasif bernama Putra ini. Dan lebih banyak kesempatan untuk mereka bertatap pandang, yang menimbulkan sensasi aneh itu.

Mereka turun di Hong Kong International Airport (HKIA). Di bandara itu mereka membeli minuman cappucino dan membeli roti. Harga makanan dan minuman di sana relatif murah. Mereka menunggu di bandara sampai cuaca dinyatakan aman untuk terbang lagi. Dan menunggu itu sangat lama karena belum ada tanda-tanda cuaca akan membaik. Sarah mengeluh cukup keras dan membuat Putra menoleh dengan tanda tanya terlukis jelas di mukanya. Dan raut kebosanan juga tentunya. Kemudian keduanya sama-sama terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang berani mengawali percakapan. Bahkan Sarah yang sangat bosan apabila tidak ngobrol dalam waktu lama.

“Perhatian untuk penumpang pesawat Rajawali Jakarta-Tokyo harap kembali memasuki pesawat karena udara sudah dinyatakan aman untuk terbang melanjutkan perjalanan.” dari speaker bandara terdengar pemberitahuan yang menghapus raut kebosanan Putra dan membuat senyum Sarah terkembang di wajahnya.

Setelah pesawat lepas landas meninggalkan bandara itu, dengan segera mata Sarah terasa berat, lalu dia pun tertidur. Dia bahkan tidak mendengar pengumuman pramugari bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat.

“Saraaaahh…!!! Ini udah mau sampai kamu masih tiduurr..!!” samar-samar terdengar suara Putra yang setengah berteriak di telinga Sarah. Sarah langsung terbangun begitu mendengarnya. Dan ketika mata mereka bertemu, terjadi lagi sensasi yang asing itu. Yang tidak enak tapi menyenangkan. Tapi kali ini mereka cepat memalingkan muka karena mereka memang harus menyiapkan barang-barang bawaan mereka.

Mereka turun dari pesawat setelah pesawat mendarat di Narita International Airport. Sarah celingukan mencari kopernya. Demikian juga dengan Putra. Setelah mereka menemukan koper mereka dan membawanya, mereka mencari penjemput mereka. Di antara sekian banyak penjemput yang berteriak-teriak mencari yang dijemputnya, atau ada juga yang menulis nama yang dijemput di sebuah kertas. Suasana di sana sangat ramai.

“Memangnya kita dijemput siapa sih, Put?” tanya Sarah.

“Katanya akan ada utusan dari Kedutaan Besar Indonesia akan menjemput kita di sini. Tapi kok sepertinya tidak ada ya?” gumam Putra lebih kepada dirinya sendiri. Tapi tiba-tiba mereka melihat seseorang yanng memegang kertas bertuliskan nama mereka. Kemudian mereka menghampiri orang itu.

“Maaf, apakah anda diutus untuk menjemput kami?” tanya Sarah memberanikan diri. Orang itu menoleh. Sarah dapat memperkirakan bahwa umurnya masih sekitar 35 tahun.

“Oh, jadi kalian ini Sarah dan Putra? Ya, saya diutus untuk menjemput kalian. Sekarang kita ke KBRI dulu.” kata orang itu sambil tersenyum. Putra dan Sarah mulai merasa mereka akan menyukai orang itu.

*************

Sepanjang perjalanan dari bandara Narita ke KBRI, orang itu memperkenalkan dirinya. Orang itu bernama pak Suryo. Pak Suryo lahir dan besar di Jawa Barat. Beliau terus menceritakan tentang dirinya dan juga tentang Jepang. Ternyata sudah 3 tahun beliau tinggal di Jepang. Beliau juga menceritakan tentang anak dan istrinya di Bandung. Sarah dan Putra tidak berhenti tertawa saat pak Suryo bercerita tentang anaknya yang bungsu serta semua tingkah lucunya.

Pemandangan di luar sangat menarik. Banyak gedung-gedung pencakar langit saat mereka melewati jalan kota. Seolah-olah semua gedung tinggi itu benar-benar mencakar langit.

“Nah, anak-anak. Sudah sampai. Ayo turun. Besok kalian kan ada waktu luang, kebetulan hari Sabtu pula. Besok kita bisa jalan-jalan menjelajah Tokyo. Mau kan?” Tawar pak Suryo. Sarah mengangguk semangat sambil tersenyum manis sementara Putra hanya tersenyum simpul.Mereka memasuki gedung KBRI diantar oleh pak Suryo. Di sana mereka mengurus data-data mereka.

“Selama kami di Jepang, dimana kami tinggal?” tanya Putra pada Duta Besar ketika mereka menemuinya di ruangannya.

“Kalian akan tinggal di pinggir kota Tokyo, dekat sekolah kalian.” jawab beliau. Putra hanya mengangguk sementara Sarah mengamati ruangan itu. Ruangannya tidak terlalu besar tapi ditata dengan sangat rapi. Di pojok ada lemari kayu yang isinya penghargaan-penghargaan. Ruangannya hangat dan menyenangkan. Meja kerja terletak di tengah ruangan menghada pintu. Di sisi lain ruangan itu, ada perapian dan sofa yang nyaman. Disana pasti menyenangkan, pikir Sarah.

Setelah beberapa saat berbincang dengan Duta Besar, mmereka diantar lagi ke rumah mereka selama di Jepang di pinggir kota Tokyo oleh pak Suryo. Pemandangan di jalan sangat indah. Sarah sangat memperhatikan itu. Di mana-mana sawh bertebaran etika mereka sedikit keluar dari Tokyo.

Saat mereka sampai, mereka disambut dengan meriah. Sang ibu pemilik rumah sangat antusias menerima kedatangan Sarah dan Putra di rumah itu.

“Ah…Sarah-chan dan Putra-san dari negeri Indonesia… selamat datang di rumah kami. Mari sini saya perkenalkan kalian dulu dengan penghuni rumah ini.” kata sang ibu antusias. Ketika mereka memasuki rumah, suasana hangat menyambut mereka. Semuanya menyambut kedatangan mereka. Membuat hati Sarah hangat.

“Perkenalkan..ini Yumei-chan..kakak angkat kalian. Yang ini adik angkat kalian, Hanaka-san..saya sendiri ibu angkat kalian selama kalian di sini. Ini ayah angkat kalian juga..” Sarah tersenyum. Sekarang dia punya kakak perempuan disini!

“Kamar kalian ada di atas, kamar yang tepat di sebelah kanan tangga untuk Sarah dan Yumei, dua kamar setelah tangga sebelah kiri untuk Putra.. ayo silahkan ke kamar..” kata ibu tersebut. Mungkin mulai sekarang aku harus panggil dia Ibu, pikir Sarah.

Sarah ke kamarnya membawa barang-barangnya. Dia melihat keadaan kamar. Ada meja belajar yang saling memunggungi di sisi kanan dan kiri kamar tersebut. Dekat pintu ada lemari geser untuk pakaian dan kasur lipat,serta selimut.tepat di depan pintu ada jendela model geser dengan kaca bening dan gorden warna biru gelap bermotif bintang-bintang. Sarah berpikir, bagaimana dia bisa tidak betah di sini. Semuanya menyenangkan. Keluarga yang ramah, kamar yang menyenangkan, dan semuanya. Sarah ingat dulu dia pernah menggerutu kenapa pertukaran pelajarnya sangat lama. 3 bulan. Sekarang Sarah malah menganggap waktunya sangat sedikit.

Tapi sekarang Sarah yakin dia akan betah di sini..

***********

Sebulan Kemudian……..

“Sarah-chaaaaaannn…!!!” Airin, salah seorang sahabat Sarah di Jepang, berteriak memanggilnya.

Ya, sekarang Sarah sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Jepang. Di sini dia sekolah di Honey Star High School di Tokyo. Sarah ditempatkan di kelas Internasional 8-3. Teman-temannya semuanya asyik. Ada ChocoAddicters, kumpulan para penggemar coklat, ada NatureLover, kumpulan anak-anak pecinta lingkungan. Tapi Sarah juga gabung ke satu geng yang keren. Mereka menamai diri mereka TeensLife. Geng ini memang geng terkeren di sekolah itu. Bahkan mereka punya blog sendiri. Sarah harus mengakui bahwa TeensLife memang geng terkeren di sana.

Sementara Putra? Hei, hei.. kalian belum lupa kan? Berkebalikan dengan Sarah, Putra hanya dikenal sebagai bagian dari kelas Internasional 8-5. Selain itu dia juga dikenal sebagai cowok yang emo. Dingin. Biarpun dia dingin dan pendiam, tapi banyak gadis yang tertarik padanya justru karena sifatnya yang dingin dan pendiam. Bayangkan, dalam sebulan dia sudah punya pacar. Tidak, bukan Putra yang meminta gadis itu jadi pacarnya, melainkan gadis itu sendiri. Gadis itu namanya Fuyuriin. Seperti tipikal gadis Jepang umumnya, matanya sipit dengan rambut sebahu. Entah dari sananya dia memang anggun atau dia sedang merasa senang sudah memenangkan hati Putra. Namun sebenarnya Putra tidak merasa bahagia dengan Fuyuriin. Dia hanya kasihan padanya. Tidak pernah ada rasa apapun untuk Fuyuriin. Bahkan sekarang Putra masih belajar mencintai Fuyuriin. Tidak. Ada yang selalu mengganggunya setiap kali dia menatap mata Sarah.

Bahkan sekarang. Saat dia sedang di kelas, berusaha mengabaikan Fuyuriin yang memaksanya memakan bekalnya. Dan juga mengabaikan anak-anak lain yang bersuit-suit dari luar. Siapa yang sedang dipikirkan Putra? Siapa? Sarah jawabannya.

“Putraa.. yuk makan duluu.. yuuk..” bujuk Fuyuriin, namun Putra tidak mengindahkannya. Dia hanya menganggap pacarnya hanya angin lalu saja.

“Kamu kenapa sih? Kamu sakit ya Sayang? Yuk, aku antar kamu sampai ke klinik sekolah.” kata Fuyuriin. Sekali lagi Putra mengacuhkannya. Sampai akhirnya pacarnya kesal. Dia membanting kakinya ke tanah lalu melangkah keluar kelas dengan muka dongkol. Dan teman-temannya, yang merasa kehilangan tontonan gratis, melangkahkan kaki mereka keluar.

Putra melangkah ke jendela. Dia sendiri sekarang di kelas. Dari jendela dia melihat Sarah beserta gengnya sedang bermain Kucing Dalam Lingkaran. Putra mencoba menemukan dimana Sarah. Dan dia menemukannya. Hari ini gadis itu memakai baju gaun santai warna pink lembut, sama seperti teman-temannya. Hanya saja warnanya berbeda-beda. Rambutnya yang selengan dibiarkan terurai begitu saja. Sekarang rambut hitamnya tampak sangat berkilau di bawah sinar matahari. Dia tampak sangat menarik hari ini.

Seperti halnya Putra, Sarah juga memikirkan Putra dan sensasi yang dia rasakan dulu saat dia bertengkar di pesawat. Akhirnya, karena rasa penasarannya sudah memaksanya bertanya pada orang lain, dia bertanya pada kakak angkatnya saat sebelum tidur.

“Yumei… aku boleh tanya sesuatu?” kata Sarah. Yumei mengangguk. Lalu Sarah menceritakan semuanya. Perasaannya waktu itu, pertengkaran mereka, dan sensasi itu. Yumei hanya diam mendengarkan dengan seksama. Setelah Sarah selesai bercerita, Yumei malah tertawa sambil berkata,

“Kau tahu, itu namanya cinta!”

***********

“Memangnya kamu sebegitu pentingnya…!!! Memangnya aku nggak punya urusan lain!!! Masa setiap hari aku harus mengurusi kamu terus!! Aku kan juga bisa bosan!!!” Sarah mendengar teriakan dengan suara yang sangat dikenalnya. Arahnya dari taman. Itu suara Putra. Sarah diam di tempat. Tak tahu sebaiknya melakukan apa. Menemuinya atau tidak mengganggunya.

“Kalau kamu nggak mau ya sudah!!! Masih banyak cowok yang lebih baik dari kamu!!!” suara Fuyuriin, desis Sarah. Rupanya mereka sedang bertengkar hebat. Sekejap kemudian mereka dikerumuni orang-orang yang sedang berlalu lalang. Mungkin mereka penasaran akan seperti apakah ending dari pertengkaran tersebut. Sarah hampir saja kelepasan tertawa mengingat hipotesisnya sendiri. Konyol.

Tiba-tiba kerumunan itu menyeruak. Fuyuriin keluar dengan bercucuran air mata. Kerumunan itu pun mulai bubar. Putra terduduk di kursinya, menunduk dalam sekali. Sarah baru tahu kalau Putra bisa menunduk sedalam itu. Lalu dia merasa perlu menghibur Putra.

“Pak, cappucinonya tambah satu lagi yaa..” pesan Sarah pada penjual cappucino. Setelah memegang dua cappucino tersebut, dia menghampiri Putra. Dia berdiri tepat di depan Putra dan menyodorkan segelas cappucino di tangannya. Tanpa sepatah katapun.

Putra mengangkat kepalanya. Lalu tanpa bicara apapun, dia menerima cappucino yang diberikan Sarah. Sarah duduk di kursi, tepatnya di samping Putra. Memang Sarah anak yang sangat ingin tahu, jadi dia bertanya pada Putra.

“Kamu dan Fuyuriin putus ya?” tanya Sarah. Putra memandang Sarah seolah-olah dia sedang katarak atau rabun ayam. Tapi Putra mengangguk dan meminum cappucino dari Sarah.

Dari sini Sarah bingung harus senang atau ikut sedih.

“Fuyu egois. Dia minta aku temani dia kemana-mana. Padahal aku lelah sekali, bahkan untuk berdiri saja susah.” kata Putra setelah beberapa saat keheningan menguasai mereka. Sarah hanya mengangguk-angguk.

“Aku pulang dulu. Kasihan nanti Yumei dan Hanaka menunggu kue dadar ini.” kata Sarah sambil menunjukkan kotak berisi kue dadar pesanan Yumei dan Hanaka. Lalu Sarah berdiri dan melangkah meninggalkan Putra. Lalu Sarah berdiri dan melangkah meninggalkan Putra. Tiba-tiba Sarah merasa ada yang berjalan di sampingnya. Saat dia menoleh, ternyata Putra berjalan menyejajari langkahnya. Sarah merasa mukanya memerah.

“Terimakasih…err…cappucinonya,” kata Putra. Sarah mengangguk pelan. Kemudian mereka berjalan menembus dinginnya musim dingin Tokyo.

***********

Sampai di rumah, Sarah disambut dengan derai tawa Hanaka dan celotehan Yumei memarahi adiknya. Sarah juga tertawa disambut pemandangan seperti itu. Hanya Putra yang tetap diam. Sarah memandangnya heran.

“Kau tahu, aku baru lihat hanya kamu satu-satunya yang tidak tertawa melihat pemandangan ini. Padahal kan lucu,” tanya Sarah heran. Putra hanya menggeleng. Entah apa maksudnya.

Akhirnya, setelah memberikan kue dadar pada Yumei dan Hanaka, Sarah beranjak ke kamar dengan alasan sudah mengantuk. Demikian juga dengan Putra. Hanya saja Sarah tahu alasan Putra masuk ke kamar lebih cepat bukan hanya karena mengantuk. Sarah tahu Putra terluka meski dia mengakui dia tidak pernah menyayangi Fuyuriin.

Setelah Sarah masuk ke kamarnya, dia memikirkan tentang perasaannya tadi saat mereka di taman. Semuanya berkelebat di benak Sarah. Seperti flashback. Saat dia menemukan Putra dan Fuyuriin bertengkar. Perasaan senang menguasai hatinya waktu itu. Dan waktu dia memberikan cappucinonya pada Putra. Saat Putra menyejajari langkahnya. Dan juga ucapan Yumei dulu. Tentang hipotesisnya. Sampai akhirnya gadis itu terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh lagi. Dia tertidur dengan banyak perasaan bercampur di benaknya.

***********

Sarah tidak tahu apa yang membawa kakinya melangkah ke mading sekolah saat jam istirahat. Di sana dia melihat pengumuman yang cukup membuatnya kaget.

Lomba dansa Waltz! Dalam rangka ulang tahun sekolah? Mengapa harus dansa Waltz?! Dari sekian banyak lomba, mengapa harus lomba dansa Waltz? Para anak perempuan di belakangnya mulai saling berbisik atau ada pula yang histeris. Sarah tidak mengerti. Mengapa harus seperti ini? Dia yakin nanti hanya dia yang tidak punya pasangan dansa. Paling-paling semua teman TeensLife-nya sudah punya pasangan dansa semua. Sarah menghela napasnya berat. Kalau tahu begini, baiknya dia tidak usah tahu sekalian saja!

Sekilas dia melihat Putra melihat pengumuman itu dengan muka tidak minat sama sekali. Entah apa yang merubahnya, tiba-tiba raut wajahnya menjadi bersemangat. Sarah memang penasaran, namun hatinya sedang bad mood karena acara itu. Jadi dia tidak memedulikannya.

Lain halnya dengan Putra. Dia sangat antusias dengan acara tersebut. Ya, sepertinya semuanya sudah tahu bahwqa Putra putus dari Fuyuriin. Dan diam-diam, mereka ternyata bersaing, siapa yang lebih cepat mendapatkan pengganti satu sama lain. Mungkin saja Fuyuriin sedang bingung. Tapi Putra tidak. Dia sudah tahu siapa yang akan dia ajak ke pesta dansa itu. Dia tahu. Bahkan mungkin, dia bisa menggantikan posisi Fuyuriin! Putra tersenyum sendiri tanpa sadar. Dia yakin hal itu akan terjadi!

Pada hari-hari selanjutnya, pesta dansa itu hampir terlupakan. Aku bilang hampir, jadi belum sepenuhnya terlupakan. Sarah mendengus kesal setiap kali dia mendengar pesta dansa itu disebut-sebut. Namun Putra malah tersenyum. Dia bahkan menghitung mundur sampai hari pesta itu dilaksanakan.

Sebenarnya siapa sih yang akan diajak Putra saat pesta dansa itu? Well, hanya Putra yang tahu. Padahal banyak gadis yang memintanya untuk menjadi pendampingnya di pesta itu. Tapi Putra tidak menghiraukan mereka. Tekadnya sudah bulat.

*************

Sampai akhirnya hari itu datang, hari dimana akan dilaksanakan pesta dansa tersebut, Sarah masih jengkel. Tapi dia berusaha untuk mnengalihkan pembicaraan setiap kali ada yang menanyainya tentang pesta dansa itu, apapun pertanyaannya dan siapapun yang bertanya. Semuanya tidak sabar untuk menunggu malam nanti, Sarah malah berharap agar siang itu berlangsung sangat lama.

Saat malam akhirnya tiba, Sarah yang mulanya memaksa untuk tidak ikut, akhirnya menyerah. Dia keluar kamarnya dengan muka berlipat-lipat. Tapi pakaiannya sangat anggun. Gaun sederhana warna biru langit dengan pita di bagian bawah gaun tersebut. Dia memakai sepatu model pantofel yang warnanya juga biru langit. Rambutnya digerai begitu saja.

Sampai di sekolah, Sarah masih kesal. Dia yakin dia akan sendiri. Sangat yakin. Hampir saja dia tersandung karena terlalu sibuk memikirkan kekesalannya. Dia melihat teman-temannya menghampirinya. Setelah bicara sebentar, mereka memasuki Great Hall.

Suasana di sana sangat meriah dan anggun. Dinding-dinding dihiasi dengan beberapa gambar-gambar yang Sarah kenali sebagai gambar anak-anak kelas 7. Karpet merah menyambut mereka. Dimana-mana terdapat meja yang berisi banyak makanan dan minuman. Semuanya yang hadir di sana terlihat senang. Kecuali Sarah tentunya.

Dari jauh terdengar alunan manis musik waltz. Sarah, Airin, Kiirin, Hana, Himawari, dan Hinagiku duduk di salah satu meja. Pertama, Hana diajak berdansa oleh anak kelas 8-3, lalu Airin oleh pacarnya, anak kelas 9-4. Lalu Himawari diajak oleh seorang anak kelas 7 yang polos. Hima tersenyum. Begitu populernyakah dia sampai anak kelas 7 pun mengajaknya berdansa?, pikir Sarah. Lalu Kiirin, oleh seorang yang Sarah pikir anak kelas 8-1. Hanya tinggal dia dan Hinagiku. Tiba-tiba Hinagiku dihampiri oleh seorang anak kelas 9. Dia memandang Sarah dengan perasaan bingung.

“Sudahlah, Hina-chan. Pergi saja dengannya. Aku tidak apa-apa disini,” jawab Sarah menjawab pertanyaan yang tak terucapnya Hina-chan.

“Kau yakin, Sarah chan?” tanya Hina-chan memastikan. Sarah mengangguk pasti. Lalu Hina tersenyum dan beranjak dari sana bersama anak kelas 9 yang tadi mengajaknya. Sarah menghela napas. Kini dia sendiri. Benar, kan, pikirnya kesal. Tidak akan ada yang mengajakku. Namun tiba-tiba ada sebuah tangan terulur di depannya. Ketika Sarah mengangkat kepalanya, dia melihat wajah yang selama ini mengganggu pikirannya. Yang selama ini ada di pikirannya. Sekarang orangnya sedang berdiri di depannya!!

“Mau dansa denganku tidak?” tawar anak itu, yang ternyata Putra. Sarah mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursinya. Putra mengambil tangan Sarah dengan lembut, lalu membawanya ke lantai dansa. Bergabung dengan peserta dansa lainnya. Sarah merasa mukanya memerah dan jantungnya berdebar-debar.

Sementara Putra, dia juga merasa mukanya memerah. Padahal dia sudah berusaha rileks, tapi tetap saja detak jantungnya berpacu dengan waktu, sangat kontras dengan musik waltz yang mengiringi dansa mereka. Mereka berdansa sebaik mungkin, sementara dari kejauhan, Airin, Kiirin, Hana, Himawari, dan Hinagiku tersenyum mendukung Sarah. Sarah juga dapat merasakan tatapan iri dari banyak gadis di belakang. Sarah tersenyum bahagia. Dia merasa bahagia karena orang yang selalu di pikirannya sekarang ada di depannya, bahkan tadi mengajaknya berdansa. Dia berusaha menikmati setiap detiknya saat-saat impiannya, bersama orang yang paling dia sayang. Dia ingin ini berlangsung selamanya..

Begitu juga dengan Putra. Dia bahagia karena rencananya berjalan mulus. Dia berhasil mengajak Sarah dansa tanpa keduluan oleh orang lain. Dan dia juga aman dari kejaran para gadis gila yang mengejar-ngejarnya untuk mengajaknya ke pesta dansa.

Sarah merasa ini adalah momen terindah selama hidupnya.

*************

“Saraaaaahh…!!! Itu hujan kok jemurannya nggak diangkaaaattt….!!!” Sarah terbangun dari lamunannya tentang masa-masa pertukaran pelajarnya di Jepang karena teriakan teman sekosnya, Kaina. Buru-buru Sarah mengangkat jemurannya di teras.

Ya, sekarang Sarah tinggal di kosan dekat kampusnya. Di sini punSarah banyak teman. Ada Kaina yang cerewet dan punya suara stereo, ada Lilla yang kalem dan pendiam, ada pula Ariana yang selalu menghiburnya kala dia sedih. Khusus untuk Ariana, Sarah punya sebutan sendiri untuknya kalau jiwa jahilnya sedang kumat. Yaitu Dumbledore’s little sister, karena namanya mirip dengan nama adik Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts dalam novel Harry Potter kesukaan Sarah. Tapi tetap saja karena Ariana anak yang periang, sapaan itu tidak berarti apa-apa baginya.

Setelah mengangkat jemurannya dan memindahkannya ke dalam kamar, Sarah memutar mp3 miliknya lalu mengambil salah satu judul novel Harry Potter. Ah, ternyata yang terambil adalah buku terakhir, Harry Potter and the Deathly Hallows. Lalu dia tenggelam dalam buku tersebut sampai malam.

“Saraaahhh…ini ada titipan dari..emm…nggak tau siapa!! Yang penting kamu buka dulu nih pintu!!” Sarah terbangun esok paginya karena teriakan keras Kaina. Ternyata dia membaca dan ketiduran sampai pagi. Lalu dia mebuka pintu dan mempersilahkan Kaina masuk.

“Dari siapa? Yang mengantar siapa? Pos ya?” tanya Sarah beruntun. Kaina menggeleng.

“Orang aneh. Pake helm. Pake motor. Aneh..” jawabnya. Karena penasaran, Sarah membuka bungkusan itu. Isinya ternyata bunga. Mawar putih. Ada tulisannya juga.

“Halo, apa kabar? Sudah lama ya tidak ketemu. Masih ingat pesta dansa di Jepang?” tulisan itu berbunyi seperti itu. Lalu ingatan Sarah melayang lagi pada seseorang di SMP. Dia tidak menghiraukan berondongan pertanyaan dari Kaina. Sarah tersenyum.

Dia tahu siapa pengirimnya… dia tahu.

Selesaaaaaaaaii!! Yaampuun, keren nggak? Komeeeeeeen! kudu fardhu wajib musti harus!

Tags:

1 Response to "Best Moments Ever"

tulisannya panjanga amat nad punya gw aja bru segitu

Leave a Reply


  • None
  • Linnia sarap: @ kak Pritha : Waaaw, ada senior! Makasih ya kaaaaak. Hehe. ;P
  • pritha: sip,ini yang namanya puisi melek teknologi. dari judulnya aja udah keliatan :-)
  • auuuu: tulisannya panjanga amat nad punya gw aja bru segitu

Categories